Selasa, 01 Oktober 2019


MAKALAH DEFINISI AL-QUR’AN



DOSEN PEMBIBING : Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M.Ag
DI SUSUN OLEH
M. Sodiqin
NIM : B75219069
UNIVERSITAS UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
ILMU KOMUNIKASI
2019



KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan petunjuk untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya saya tidak akan bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini telah di buat berdasarkan tugas dari dosen apa yg telah di berikan ke pada saya. Makalah ini banyak mengalami ke rumitan dan kesulitan, namun apalah daya dengan welas kasih saya mengerjakannya dengan sabar.
Makalah ini memuat tentang “ DEFINISI AL-QUR’AN”, tema yang akan di bahas di makalah ini sengaja di pilih oleh dosen saya untuk saya pelajari lebih dalam.
Kami selaku pembuat  mengucapkan banya terima kasih kepada dosen yang telah membantu dalam proses makalah ini.









JUDUL MAKALAH ……………………………….  I
KATA PENGANTAR ……………………………..  II
DAFTAR ISI .………..…………….......................... III
BAB I PENDAHULUAN ……………………….....  1
A. Latar Belakang ..…………………………......... 1
B. Definisi Al-Qur’an ……………………………  2
BAB II PEMBAHASAN
A. Nama-nama Al-Qur’an
dan alasannya ………………………….…….   4
B. Sifat Al-Qur’an ……………………………....  12
KESIMPULAN …………………………………...  17
DAFTAR PUSTAKA .……………………………  18









PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Al-Qur’an menjadi  kekuatan Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang telah berkembang hingga saat ini. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengebuh manusia yang awalnya gelap menuju terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.Secara bahasa Al-qur’an berarti “bacaan” atau “kumpulan”. Al-Qur’an tidak hanya sekedar bacaan saja, tetapi sebagai bahan kajian untuk sebuah penelitian. Hal iniyang membedakan qiraah (bacaan) dengan tilawah. Al-Qur’an yang di baca dengan akal pikiran  di namakan Qiraatul Qur’an, sedangkan  Al- Qur’an yang hanya sekedar di baca dengan lisan di sebut dengan Tilawatul Qur’an.
Adapun pengertian al-Qur’an secara ter perinci di kemukakan oleh Abdul Wahhab bin Khalaf  bahwa :“Al-Qur’an itu sebagai kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril melalui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan menggunakan bahasa Arab dan disertai dengan kebenaran agar dijadikan hujjah (penguat) untuk  pengakuannya sebagai Rasulullah dan agar dianut sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, di samping merupakan amal ibadah jika membacanya. Al-Qur’an itu dikompilasikan di antara dua ujung yang dimulai dari surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas yang sampai kepada kita secara tertib dalam bentuk tulisan maupun lisan dalam kedaan utuh atau terpelihara dari perubahan dan pergantian”.
BAB I
Definisi Al-Qur’an

Al-Qur’an menurut bahasa mempunyai arti yang bermacam-macam, salah satunya adalah bacaan atau sesuatu yang harus di baca, dipelajari .Adapun menurut istilah para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi terhadap Al-Qur’an. Ada yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril dengan lafal dan maknanya dari Allah SWT, yang dinukilkan secara mutawatir; membacanya merupakan ibadah; dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas .
Dan juga Alquran mempunyai arti menumpulkan dan menghimpun qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Quran pada mulanya seperti qira’ah, yaitu mashdar dari kata qara’a, qira’atan, qur’anan .

Berdasarkan definisi di atas, maka setidaknya ada lima faktor penting yang menjadi faktor karakteristik Alquran, yaitu:

1) Alquran adalah firmandankalamAllah SWT, bukan milik Malaikat Jibril (melainkandia hanya penyampai wahyu dari Allah), bukan sabda Nabi Muhammad SAW. (beliau hanya penerima wahyu Alquran dari Allah), dan bukan perkataan manusia biasa, mereka hanya berkewajiban mengamalkannya.
2) Alquran hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak diberikan kepada Nabi-nabi sebelumnya. Kitab suci yang diberikan kepada para nabi sebelumnya bukan bernama Alquran tetapi memiliki nama lain yaitu Zabur adalah nama kitab yang diberikan kepada Nabi Daud, Taurat diberikan kepada Nabi Musa, dan Injil adalah kitab yang diberikan kepada Nabi Isa as.

3) Alquran adalah mukjizat, maka dalam sepanjang sejarah umat manusia, sejak awal turunnya sampai sekarang dan waktu yang akan mendatang tidak seorangpun yang mampu menandingi Alquran, baik secara individual maupun kolektif, sekalipun mereka ahli sastra bahasa dan sependek-pendeknya surat atau ayat.

4) Diriwayatkan secara mutawatir artinya Alquran diterima dan diriwayatkan oleh banyak orang yang secara logika mereka tidak bisa untuk berdusta, periwayatan itu dilakukan dari masa ke masa secara berturut-turut sampai masa waktu kepada kita.

5) Membaca Alquran dicatat sebagai amal ibadah. Di antara sekian banyak bacaan, hanya membaca Alquran saja yang di anggap ibadah, sekalipun membaca tidak tahu maknanya, apalagi jika ia mengetahui makna ayat atau surat yang dibaca dan mampu mengamalkannya. Adapun bacaam-bacaan lain tidak dinilai ibadah kecuali disertai niat yang baik seperti mencari Ilmu. 







BAB II

B. Nama -Nama Alquran dan Alasanya

Kita mempunyai kewajibanuntuk membaca dan memahami makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an.oleh sebab itu kita sebagai umat muslimharus memahami nama-nama Al-Qur’an, Sesungguhnya tidak ada orang yang mengetahui tentang Kalamullah (Al-Qur’an) daripada Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, sehebat apapun orang itu menggambarkan Kitabullah dan menyifatkan apa yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an demi Tuhannya seluruh manusia-jauh lebih agung dari apapundansegalanya.
Berikut iniadalah sekelompok nama-namaAl-Qur’an yangterdapat di dalamnya, yaitu sebagai berikut:

1) Al-Furqan (Pembeda)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur‟an) Dinamakan Al-Furqan, karena Al-Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur. Di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkannya dalam rentang waktu 23 tahun. Sementara kitab-kitab samawi kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Q.S. Al-Furqan : 1)




Para ahli tafsir mengatakan berbagai pendapat mengenai sebab penamaan Al-Qur’an dengan Al-Furqan menjadi beberapa pendapat, yaitu:
a) Diturunkan seluruhnya dengan sekali turun.
b) Dinamakan dengan Al-Furqan, karena Al-Qur’an itu diturunkan sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, yang global dan yang terperinci, baik dan buruk, petunjuk dan kesesatan, jalan yang lurus dan jalan yang sesat, kebahagiaan dan kesengsaraan, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, kaum yang jujur dan kaum yang dusta serta orang-orang yang adil dan orang-orang zhalim. Dengan itulah Umar bin al-Khattab Radhiyallahu „Anhu diberi gelar “Al-Faruq”.
c) Dari latar belakang penamaan Al-Qur’an Al-Azhim dengan Al-Furqan lantaran ia diturunkan ke dunia secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun, sementara kitab-kitab yang lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan sekaligus; atau dinamakan demikian karena ia merupakan pembeda antara yang hak dan yang batil, atau disebabkan karena di dalamnya ada jalan keselamatan dari awan gelap kesesatan; maka perbedaan pendapat variat
d) if ini menunjukkan dengan tegas atas keagungan Al-Qur‟an, ketinggian derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta‟ala dan luhur kedudukannya.












2) Al-BURHAN
Penamaan Al-Qur’an dengan Al-Burhan terdapat dalam satu ayat dalam Al-Qur‟an, yaitu

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.” (Q.S. An-Nisaa‟ : 174)

Ayat ini berbicara kepada setiap agama islam baik Yahudi, Nasrani, orang-orang musyrik ataupun lainnya, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta‟ala telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai hujjah atas mereka, yang menjelaskan keyakinan yang mereka anut berupa agama yang telah dihapus.
Argumentasi kebenaran ini mencakupi dalil-dalil akal (rasional) dan syar’i, serta ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta‟ala) di segenap penjuru, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala.
Bahkan cukup hanya dengan Al-Qur’an saja, menjadi bukti atas kebenaran kerasulan Muhammad Shalallahu „Alaihi Wasallam dan risalah yang diembannya.
       Al-Qur’an adalah  bukti kebenaran yang berasal dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba-hambaNya, menjadi hujjah yang ditegakkan atas orang-orang kafir. Muncul daripadanya bukti-bukti yang paling nyata dan kuat atas kebenaran isi, makna, dan kandungannya; baik yang menyangkut permasalahan akidah maupun persoalan hidup.



Setiap orang yang berinteraksi dengan dalil-dalil Al-Qur’an yang mudah dan jelas, kemudian hati dan pikirannya terpengaruhi olehnya, lalu dia bandingkan dengan dalil-dalil, bukti dan argumentasi yang diolah, ditetapkan dan diterangkan oleh akal manusia. Siapapun yang melakukan yang demikian itu, pasti akan menemukan sisi kebenaran, kemudahan dan keterangan Al-Qur’an.

3) Al-HALQ (kebenaran)
Al-Qur’an di namakan dengan Al-halq karena dari awal hingga akhirnya, kandungan Al-Qur’an adalah semua benar. Kebenaran ini adalah dari datang daripada Allah yang menciptakan manusia dan mengatur system hidup manusia dan dia Maha Mengetahui segala-segalanya. Allah Subhanahu Wa Ta‟ala menamakan Al-Qur’an dengan Al-Haq dalam beberapa tempat dalam kitab-Nya (Al-Qur’an). Kita akan menyebutkan beberapa ayat yang berhubungan dengan Al- halq yaitu:
a. Firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala:
وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ
“Dan sesungguhnya Al-Qur‟an itu benar-benar kebenaran yang diyakini.” (Q.S. Al-Haaqqah : 51)
b. Dari penamaan Al-Qur’an Al-Karim dengan Al-Haq, terlihat dengan jelas keagungannya dan kedudukannya yang tinggi. Manusia wajib mengimani Al-Haq ini (Al-Qur’an) dan menyambut seruannya. Karena ia bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Mulia. Tiada kebenaran selain kebenarannya. Di dalamnya juga terdapat sindiran terhadap kitab-kitab samawi yang telah menyimpang, karena telah tercampurnya kebenaran dan kebatilan.


4) Al- Syifa (Yang Penyembuh/Obat Penawar)
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta‟ala memberi nama Al-Qur’an dengan Al-Syifa (obat penawar) pada tiga tempat di dalam kitab-Nya, yaitu:
a. Firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada.” (Q.S. Yunus : 57)
Maksudnya adalah obat penawar dari penyakit-penyakit hati (mental), yang justru lebih berat akibatnya daripada penyakit-penyakit yang menempel di badan, seperti: keragu-raguan terhadap kebenaran, kemunafikan, dengki, iri hati dan yang senada dengan itu.
Tidak ada keraguan bahwa Al-Qur’an ini merupakan obat penawar dari berbagai macam penyakit hati. Baik itu penyakit hati yang bersumber dari syahwat, ketidaktundukan pada syariat, atau penyakit hati yang lahir dari syubhat yang mengotori keyakinannya.
Ketahuilah bahwasanya Al-Qur’an adalah obat penawar dari segala macam penyakit ruhani, dan juga sebagai obat penawar dari segala penyakit jasmani. Adapun eksistensi Al-Qur’an sebagai obat penawar dari penyakit ruhani, maka sudah jelas. Itu karena penyakit ruhani ada dua macam, yaitu akidah (keyakinan) yang batil dan akhlak yang tercela.

5) AN- NUR  ( Cahaya )
Panduan yang Allah gariskan dalam Al-Qur’an
Menjadi cahaya dalam kehidupan dengan mengeluarkan manusia dari ketakutan kepada cahaya kebenaran. Seorang hamba yang meneladani nama An-Nur, akan selalu memperbaiki dirinya seta memupuk cahaya ke imanan, ke islaman, kebenaran dan ihsan dalam dirinya. Dia senantiasa membersihkan hatinya dari berbagai penyakityang dapat menghambat pancaran cahaya ilahi dan menjauhi dirinya dari berbagai hal yang menghalangi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Dikatakan An-Nur karena petunjuk-petunjuknya adalah sebagai penerang hati. Nama ini diambil dari firman Allah berikutini.
وَمَنْلَمْيَجْعَلِاللَّهُلَهُنُورًافَمَالَهُمِنْنُورٍ
Artinya: “…Barang siapa tidak di beri cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak memiliki cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur)
Dengan itulah Allah  memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti kerendahannya ke jalan keselamatan, dan (dengan itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari kegelapan kepada cahaya dengan izinNya dan menunjukkan ke jalan yang lurus.

6) AL-KITAB (buku)
Kitab (Al-Qur’an) merupakan kitab umat manusia yang beragama muslim. Perkataan kitab di dalam bahasa Arab dengan baris tanwin di akhirinya (kitabun) memberikan makna umum sebuah kitab yang tidak tertentu. Apabila di tambah dengan alif dan lam di depannya menjadi suatu yang khusus (Al kitab) ia telah berubah menjadi sesuatu yang khusus (kata nama tertentu). Dalam hubungan ini, nama lain bagi Al-Qur’an itu di sebut oleh Allah adalah kitab;


ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa“. (QS. Al-Baqarah: 2)”
7) ADZ-DZIKRU (peringatan)
      Yang berarti peringatan. Al-Qur’an dikatakan Adz-Dzikru karena banyak ayat-ayatnya yang berisi peringatan kepada manusia. Nama ini diambil dari firman Allah yaitu:
إِنَّانَحْنُنَزَّلْنَاالذِّكْرَوَإِنَّالَهُلَحَافِظُونَ
Artinya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memelihranya“. (QS. Al-Hijr: 9
8) Al-BALAGH (Penyampaian/Kabar)
Yaitu kabar atau penyampaian. Diambil dari firman Allah berikut ini.
هَٰذَابَلَاغٌلِلنَّاسِوَلِيُنْذَرُوابِهِ
Artinya: “(Al Quran) ini adalah penjelasan  yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya,”. (QS. Ibrahim: 52)

Ketika Allah subhahana Wa Ta’ala memberikan keterangan yang nyata tentang Al-Qur’an, dia memuji Al-Qur’an ini dengan firmannya: ‘ini  adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia. Maksudnya menjelaskan dan memberikan petunjuk yang sempurna (kepada manusia) untuk mencapai puncak keluhuran, meraih tempat dan kedudukan yang paling utama, disebabkan apa yang terkandung di dalamnya yang berupa ajaran-ajaran prinsip, persoalan furu‟iyah dan semua ilmu yang dibutuhkan oleh hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. “Dan supaya mereka diberi peringatan dengannya,” karena kandungannya berupa peringatan terhadap perilaku buruk dan perbuatan apa saja yang Allah Subhanahu Wa Ta‟ala berikan ancaman siksa kepada pelakunya.

9) AL-RUH (Wahyu)
Allah Subhanahu Wa Ta‟ala berfirman;

ووَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui: apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Q.S. Asy-Syuura : 52)
Abu As–Su‟ud rahimahullah mengenai firman-Nya: “Ruhan (wahyu)” bahwa maknanya adalah : “Ia adalah Al-Qur’an yang kedudukannya bagi hati manusia seperti ruh bagi tubuh yang akan menghidupkannya untuk selamanya.” Dan tanwin yang ada pada kata “Ruhan” sebagai bentuk pengagungan, maksudnya: “ruhan „azhiman” atau ruh yang agung.  Maknanya adalah: “Dan demikianlah” ketika Kami wahyukan kepada para rasul sebelummu, “Kami wahyukan kepadamu ruh dengan perintah kami,” dan itulah Al-Qur’an yang agung ini.
Dinamakan dengan “Ruh” karena ruh-lah yang mampu menghidupkan jasad, begitu pula Al-Qur’anyang mampu menghidupkan hati dan ruh. Dengannya akan segala kemaslahatan dunia dan agama kebaikan berlimpah yang ada di dalamnya. Ia murni merupakan karunia Allah Subhanahu Wa Ta‟ala yang diberikan khusus bagi utusan-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman tanpa adanya upaya dari diri mereka.
Maka datang kepadamu ruh yang “Kami menjadikan ia sebagai cahaya, yang kami tunjuki dengan siapa yang Kami kehendaki di antara hambahamba Kami”. Mereka menjadikannya cahaya penerang dalam gelapnya kekufuran, bid‟ah dan hawa nafsu. Dengannya mereka mengenal hakikat kebenaran dan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus.33

C. SIFAT AL-QUR-AN

1. Al-Hakim (Yang bijaksana/penuh hikmah)
Allah menyifati kitab-Nya (Al-Qur‟an) dengan “Al-Hakim” (penuh hikmah) di beberapa ayat, di antaranya:
Pertama, Firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala:

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ
“Inilah ayat-ayat Al-Qur‟an yang mengandung hikmat.” (Q.S. Luqman : 2)
Pada ayat ini, Al-Qur‟an datang dengan membawa sifat “Al-Hakim”, yang mempunyai arti bervariasi (beragam), yaitu:
a. Al-Hakim yang berarti ayat-ayatNya disusun dengan rapi untuk menerangkan halal dan haram, batasan-batasan dan hukum-hukumnya.
b. Al-Hakim artinya terpelihara dari kebatilan, tiada kedustaan di dalamnya dan tidak ada pula perbedaan. Ini adalah pendapat Muqatil.
c. Di antara bukti keterpeliharaannya adalah bahwa Al-Qur'an itu terpelihara dari segala bentuk penyimpangan dan perubahan, penambahan dan pengurangan serta perusakan.
d. Dan bagaimana mungkin kebatilan akan mengotori kitab suci yang penuh hikmah ini, sedangkan ia diturunkan dari Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan hikmah nampak jelas dalam bangunannya, bimbingannya, cara penurunannya dan metode pengobatan yang ditawarkan buat jiwa manusia dari kebuntuan arah jalan hidup

2. Al – Aziz
Allah Subhanahu Wa Ta‟ala berfirman menggambarkan Al-Qur‟an:

عَزِيزٌ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ وَإِنَّهُ

“Dan  sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.” (Q.S. Fushshilat Maksudnya ia mulia karena sulituntuk disamai dan ditemukan yang semisalnya.
Al-Azis berarti sesuatu yang bernilai harganya.
Berasal dari kata “Al-Izz” yang bermakna kekuatan perlindungan. karena sesuatu yang bernilai harganya akan dilindungi dan dijaga dari upaya untuk mencampakkannya.  Dan seperti itu pula halnya sesuatu yang mulia.
 Al-Azis diartikan juga menang dan tidak terkalahkan. Dan seperti itu lah argumentasi-argumentasi Al-Qur‟an.
Kesimpulan pendapat para ahli tafsir mengenai sifat Al-Aziz yang dimiliki oleh Al-Qur’anyang adalah sebagai berikut:
ah: 41)
1) Ia terlindungi dari godaan syaitan,karena tidak ada jalan bagi syaitan untuk menggoda umatnya. Dan ia tidak dapat merubahnya, menambahnya atau menguranginya.
2) Ia begitu mulia dan terhormat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta‟ala serta mulia dari sisi-Nya, maka sudah seharusnya ya ia dimuliakan, ditinggikan dan tidak diabaikan.
3) Bahwa ia tiada bandingannya, terpelihara dari kebatilan dan dari setiap orang yang ingin merubah atau merusaknya.
4) Syaitantidak akan mampu untuk mengucapkan yang serupa dengannya, karena Al-Qur‟an akan selalu menang dan mengalahkannya.
5) Al-Qur‟an bukanlah makhluk.
Siapa saja yang menyimak pendapat-pendapat di atas akan dapat menemukan semua pengertian itu ada dalam sifat Al-Azis sebagai sifat bagi Al-Qur‟an. Pengertiandi atas menjadi sebuah perbedaan yang bersifat variatif, dan perbedaan yang bertentangan; yang menunjukkan keagungan Al-Qur‟an, kemuliaan, ketinggian martabat dan keluhurannya.
3. Al-Mizan
Al-mizan merupakan timbangan, pemutus dan tempat mengajukan hukum. Yang dimana seseorang akan ditimbang amal pahala dan dosa setiap makhluk untuk di tempat kan kedalam  Neraka (si pembuat dosa) dan surga (si pencari pahala). Yang di maksud neraka atau mizan di sini adalah neraca yang sesungguhnya seperti neraka yang kita dapati di dunia.
 Adapun yang mengenai bentuk dan ukuran yang sulit di bayangkan. Sebagaian ulama menyifatkan kedua takaran timbangan tersebut lebih luas dari lapisan langit dan bumi Allah, malaikat jibril memegang timbangan dan memeriksa ke dua takaran dengan teliti sedangkan malaikat mikail menjaganya setelah di hisab.  Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنتَنَازَعْتُمْفِيشَيْءٍفَرُدُّوهُإِلَىاللهِوَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. AnNisa’: 59).
4. Al–Huda
Allah menyatakan bahwa Al-Qur’an Yakni merupakan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهَٰذَاالْقُرْآنَيَهْدِيلِلَّتِيهِيَأَقْوَمُوَيُبَشِّرُالْمُؤْمِنِينَالَّذِينَيَعْمَلُونَالصَّالِحَاتِأَنَّلَهُمْأَجْرًاكَبِيرًا
“Sungguh, Al–Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9).


Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,
وَنَزَّلْنَاعَلَيْكَالْكِتَابَتِبْيَانًالِّكُلِّشَيْءٍوَهُدًىوَرَحْمَةًوَبُشْرَىٰلِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan Al–Kitab (Al–Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (QS. An-Nahl: 89)
5. Ash-Shirath Al-Mustaqim (jalan lurus)
Yakni, Al-Qur’an adalah jalanlurus yang mengantarkan orang yang senantiasa membaca dan mengamalkannya kepada surga yang penuh kenikmatan. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّهَٰذَاصِرَاطِيمُسْتَقِيمًافَاتَّبِعُوهُ
“Dan sungguh, inilah jalan–Ku yang lurus, maka ikutilah!.” (QS. Al-An’am: 153)






Kesimpulan

Al-Qur’an adalah salah satu kalam Allah S.W.T yang di turunkan kepada nabi Muhammad S.A.W.  dan arti  “Qur’an” berarti “bacaan” yaitu pedoman bagi seluruh umat islam di seluruh penjuru dunia yang di mana sebagai petunjuk, pegangan dan ibadah dan lain-lain.

Kita sebagai umat islam harus selalu menjaga dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an. Dengan berkembangnya moderenisasi dan globalisasi yang mendunia, agar kita tidak melenceng dari ajaran apa yang di ajarkan oleh rasulullulah S.A.W. Dan kita tidak termasuk kedalam golongan orang yang berbuat kemusyrikan.
























Daftar pustaka

Moh.Ali Aziz, Mengenal tuntas A-Qur’an, Bab I Al-Qur’an sebagai wahyu . (Surabaya: pengertian Al Qur’an dan ilmu Al Qur’an, 2012) Hlm.1-2.
Aminudin, et. all., Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 45. 
Anshori, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press, 2013),...p.18-19
Fath al-Qadir, oleh al-Syaukani (5/401) 
 Lihat al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, hal. 335-336. 
Lihat Fath al-Qadir (1/542), Adhwa’ al-Bayan (7/79-80), Tafsir al-Sa’di (1/217) 
Lihat Fi Zhilal al-Qur’an, (5/3127) 
Lihat Tafsir al-Qurthubi (15/367), Zad al-Masir (7/262)
Tafsir Al-Saidi (1/148)
Tafsir Abi al-Su’ud (8/38) 
Ruh al-Ma’ani, oleh al-Alusi (25/58) 
 M. Quraish Shihab, et. all., Sejarah dan Ulum Al-Qur‟an, (Jakarta: Pusataka Firdaus, 2008), hal. 13.
Mafatih li al-Ta’amul Ma’a al-Qur’an, hal. 34. 
Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2015),p. 15
muslimah.or.id/7585-diantara-sifat-sifat-al-quran.html
Referensi: https://tafsirweb.com/6257-surat-al-furqan-ayat-1.html
Ruh al-Ma’ani (11/176) 
 Tafsir al-Sa’di (2/326)